kukumpulkan banyak warna untuk membuat pelangi
Aku menyukai warna warni. Merah. Kuning. Hijau. Biru. Ungu. Jingga. Sudah lama aku menginginkan semuanya. Aku pernah memiliki warna, mendapatkan warna … tetapi yang selalu terjadi adalah warna-warni itu menguap, tak menyisakan apa-apa hanya kelabu. Dan bagiku, kelabu bukanlah warna. Kelabu bukan warna yang ingin kudapatkan.
Dan meski sampai saat ini aku tak lagi memiliki warna, aku tak kan berhenti mencarinya.
Lihatlah, aku selalu mengembara, tak tentu arah tapi selalu melangkah. Dan kini saat kusinggah, kujumpai sebentuk rumah. Seolah terpanah, akupun terus menjamah.
Tak kusangka, ada satu rasa aneh menyergap yang tak dapat segera kukenali. Ada cahaya yang jatuh melembut dari langit-langit, menembus titik-titik air yang melayang di di udara. Tak heran sejak menapakkan kaki kedalam rumah ini kulitku menyerap lembab, sepertinya tiap partikel udara didalam sini menggenggam air. Rasa basah yang mengambang, tak mengenakkan, rasa aneh yang belum juga berhasil kukenali.
Namun, rumah kecil terpencil ini juga menyimpan keindahan menakjubkan didalamnya. Ada serbuan pijar terang dari lampu yang menyala diruang belakang terpantul sempurna dalam milyaran butiran air di udara. Sebentar saja, sanggup membentuk pendar lengkungan penuh warna. Pelangi. Merah. Kuning. Hijau. Biru. Ungu. Jingga. Persis seperti yang kucari.
Rumah siapa ini? Adakah penghuninya? Dikepung rasa aneh yang tak bernama namun memancarkan aura beraneka rupa. Rumah terasing yang penuh warna.